Film-film Dokumenter Favorit?

Pengantar

Seandainya saya diminta untuk menulis film-film dokumenter terbaik sepanjang masa, apa saja film yang akan saya pilih? Sebelum sampai pada jawaban soal ini, sebenarnya saya terlebih dulu justur akan mempersoalkan adanya divisi “film dokumenter” dan “film fiksi” yang dianggap kaku dan benar-benar terpisah bagai taksonomi “kerajaan binatang” dan “kerajaan tumbuhan” pada biologi. Menurut saya pembagian seperti ini tidak sekaku yang kita bayangkan.

Pertama, pada awal sejarahnya, film tidak membedakan apakah sebuah film termasuk dokumenter atau fiksi (atau juga eskperimental). Hal ini penting karena dalam beberapa kesempatan, batas taksonomi itu benar-benar digugat dan dibuat tak berarti sama sekali, justru menurut saya oleh beberapa film yang dianggap amat jelas kategorinya. Penggunaan istilah documentary baru muncul di tahun 1926 dalam resensi yang dibuat oleh pelopor dokumenter Inggris, John Grierson, terhadap film Moana karya Robert Flaherty. Grierson (1926) menyebut adanya semacam kesan “dokumenter” (sebagai kata sifat: documentary feeling) dalam karya itu. Ia kemudian menggunakan istilah “creative treatment of actuality” untuk menyebut film jenis seperti ini, dan frasa ini kemudian demikian banyak dirujuk, disyarah dan dikritik oleh para peminat film dokumenter.

Dziga+Vertov

Kedua, film dokumenter kerap dianggap identik dengan penyajian “kebenaran” karena apa yang direkamnya adalah orang-orang sungguhan yang ada di dunia yang nyata di waktu tertentu. Namun hal ini mengabaikan peragaan ulang (re-enacment), misalnya, sebagai salah satu metode yang serupa dengan metode perekaman film fiksi. Atau juga penggambaran lewat animasi (ingat Waltz with Bashir?) untuk mereka ulang peristiwa yang terjadi. Bagaimana dengan film-film neo-realis Italia yang merekam film mereka di jalan-jalan (bukan di studio) dan menggunakan non-aktor? Hubungan film dengan “kebenaran” lebih kompleks ketimbang hubungan antara subyek dalam film dengan subyek nyata dalam sejarah, karena sifat rekonstruksi film, baik dokumenter maupun fiksi, sama-sama berpeluang melakukan manipulasi yang rumit terhadap hubungan-hubungan itu dan keduanya akhirnya lebih banyak bersandar pada persepsi dan ekspektasi (calon) penonton.

Ingat juga bahwa salah seorang pelopor sinema Rusia, Dziga Vertov, percaya bahwa metode pembuatan film yang digunakannya dalam A Man with Movie Camera merupakan metode paling tepat dalam membuat film (yaitu memperlihatkan proses rekonstruksi filmnya, ketimbang menyajikan ilusi gambar semata). Vertov merasa bahwa itulah sinema untuk mencapai kebenaran (pravda kino dalam bahasa Rusia). Komplikasi terjadi ketika metode Vertov diterjemahkan ke bahasa Perancis oleh Jean Rouch pada dekade 1950-an, dan istilah itu berubah menjadi cinema verite. Ketika istilah ini diadopsi oleh Don Pennebaker dan kawan-kawan di Amerika di dekade 1960-an, mereka enggan untuk menerjemahkannya menjadi “cinema of truth” karena terkesan adaya klaim terhaap kebenaran sehingga muncullah istilah direct cinema. Evolusi istilah dari pravda kino menjadi direct cinema ini menandai evolusi dari gagasan Vertov bahwa sinema dan metode yang dipakainya adalah Sang Sinema yang merupakan gagasan umum yang harus dipakai untuk seluruh jenis film demi mencapai kebenaran, akhirnya menjadi sebuah sub-genre dari taksonomi film semata.

Komplikasi-komplikasi ini saya sajikan demi mengganggu daftar saya sendiri, agar kita tak menerima begitu saja gagasan adanya “kerajaan film dokumenter” yang punya cabang-cabang jenis lain, seperti yang dipercaya oleh akademisi Bill Nichols (di bukunya yang terkenal Introduction to Documentary), misalnya. Taksonomi seperti ini membuat nyaman pikiran mapan, bahwa dokumenter ini begini dan film fiksi itu begitu. Mari sama-sama nikmati daftar yang saya buat ini dengan landasan pikiran yang guyah dan terus kritis terhadap definisi dan taksonomi yang mapan.

Selain pengantar mengenai taksonomi ini, penting juga dicatat satu hal penting berkaitan dengan film dokumenter: film dokumenter mendapat manfaat dari anggapan bahwa imaji yang disajikan di layar memang merupakan kebenaran, setidaknya ada jaminan keterhubungan (indexical warrant) antara imaji itu dengan dunia nyata. Hal ini kerap menyebabkan terjadinya identifikasi emosional yang lebih besar terhadap subyek-subyek dalam film dokumenter karena mereka merupakan “manusia nyata”, dan ini merupakan sesuatu yang tak bisa diharapkan diperoleh oleh film fiksi. Namun pada saat yang sama, kemampuan kritis penonton tak terbuang lantaran klaim kebenaran film dokumenter tersebut, maka kritisisme terhadap imaji dalam film dokumenter kerap mempertanyakan keterkaitan (referentiality), apalagi mengingat reproduksi gambar begitu mudah dilakukan di jaman teknologi digital. Artinya, kedua pensikapan terhadap film dokumenter berpeluang untuk menyebabkan terjadinya diskusi yang nyaring terhadap tema yang disajikan; dan itulah memang tujuan semula film dokumenter.

Grierson

Apa dampak soal di atas ini terhadap penilaian film dokumenter? Saya melihat adanya semacam bias dari para kritikus film secara umum terhadap film dokumenter, setidaknya dari apa yang saya ikuti di situs rottentomatoes.com. Banyak sekali film dokumenter mendapat penilaian yang demikian baik dari para kritikus media massa umum (yang pada umumnya juga menilai film fiksi), dan hal ini terjadi menurut saya lantaran adanya indexical warrant barusan. Kritikus film yang lebih banyak menilai film hiburan cenderung untuk melihat poin-poin utama dalam film dokumenter lebih kuat ketimbang poin yang sama dalam film fiksi karena poin-poin itu “benar-benar terjadi” dan untuk menyajikannya merupakan sebuah upaya mulia (untuk keperluan advokasi atau untuk penyadaran masyarakat) tinimbang untuk semata-mata menyajikan drama dan hiburan apabila poin itu ada dalam film fiksi.

MOW

Saya sendiri mencoba untuk menghindari bias semacam ini dengan tak terjebak menggantungkan diri pada indexical warrant untuk melihat keunggulan film dokumenter. Sebagai sebuah “creative treatment to actuality”, tentu aspek kreatif ini sama pentingnya ketimbang aspek temuan jurnalistiknya, bahkan mungkin lebih penting. Tentu hal ini kurang disukai oleh para pengguna film dokumenter sebagai alat advokasi atau jurnalisme investigatif karena kecenderungan teman-teman di wilayah ini lebih mementingkan efektivitas komunikasi daripada aspek artisik. Akhirnya, jika jalan tengah yang saya cari, aspek pelakukan visual dan kekuatan pesan menjadi sama pentingnya; dan tentu saja ini sama belaka dengan film fiksi atau media apapun yang kita konsumsi.

(Bersambung)

Advertisements

4 comments

  1. Terimakasih…saya dapat belajar dari catatan yang menarik…:)

  2. thanks sambungannya dimana yah?

    1. Ada di blog ini juga kok…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: