Wahyu Aditya tidak percaya bahwa eksperimen terhadap manusia akan berakhir baik-baik saja. Para manusia hasil eksperimen bisa bertindak di luar kendali dan akhirnya mencelakai pembuatnya. Maka ia menyarankan agar kita menghentikan saja “human cloning” karena akibatnya akan fatal terhadap para pelaku eksperimen itu. Dengan bentuk komedi, sebenarnya Stop Human Cloning bisa membawa ke mana saja, ke … Continue reading
Film dengan pendekatan found footage ini jelas mengacu pada video porno Bandung Lautan Asmara yang pernah jadi berita besar itu, terutama pada adegan-adegan di dalam kamar hotel. Coba dengarkan nama hotel yang disebut oleh tokoh dalam film ini yang konon kabarnya merupakan hotel tempat terjadinya perekaman video yang judulnya sering dikaitkan dengan sebuah perguruan tinggi … Continue reading
Film yang berlatarbelakang perang, biasanya justru merupakan film yang anti perang. Lewat penggambaran perang, para pembuat film biasanya ingin menggambarkan bahwa perang tak punya kebaikan dan membuat manusia harus membunuh manusia lain tanpa alasan yang sungguh-sungguh mereka pahami. Sutradara yang kerap sinis pada glorifikasi perjauangan bersenjata dan kekerasan seperti Stanley Kubrick atau Oliver Stone menggunakan … Continue reading
Dengan cepat semacam romantisme dualisme ekonomi terbaca pada perendengan dua metode produksi dodol ini. Satu adalah produksi rumahan yang berskala ekonomi kecil, sedangkan satu lagi adalah model produksi pabrikan yang modern dengan skala ekonomi dan pasar yang lebih besar. Awalnya saya berharap bahwa Ari Rusyadi tidak sedang menampilkan dualisme model ekonom JH Boeke yang menandang … Continue reading
Ini percakapan saya dengan Faozan Rizal alias Pao seputar film Yasujiro Journey ini: Pao: Saya mau bikin film panjangnya 62 menit, tapi yang pentingyna cuma menit pertama dan menit terakhir. Di tengah-tengah, penonton boleh pulang melakukan hal yang lebih penting dalam hidup mereka. Boleh makan, boleh sholat, terserahlah! Saya: emangnya ada film begitu? Pao: di … Continue reading
Bakat Ifa Isfansyah sebagai pembuat film layar lebar sudah tampak pada film pendek ini. Ia amat terampil menguasai penyampaiak elemen naratif dengan efisiensi yang tinggi sekaligus juga menjadi milik khas medium film. Ia tidak verbal dan boros dialog. Ia lebih suka menggunakan elemen suara dan gambar untuk menyusun sebuah informasi yang tiba kepada kita tanpa … Continue reading
“Satu!”, berkali-kali si Q-Bong mengulang signposting ini dan tidak beralih ke angka “dua!”, pertanda ada yang keliru dengan cara kerja otaknya. Ia sedang mabuk, dan mewawancara orang mabuk bukanlah sebuah standar kerja jurnalisme yang baik. Dalam standar kerja wartawan, narasumber harus sadar, sehingga apa yang dikatakannya (jika punya implikasi hukum) bisa ia pertanggungjawabkan. Dengan cepat … Continue reading
Diantara pembuat film pendek generasi 2000-an, Tintin Wulia adalah salah seorang dari yang percaya bahwa film pendek adalah sebuah karya sendiri yang perlu ditekuni sungguh-sungguh secara tersendiri, dan bukan jalan masuk untuk membuat film panjang. Dengan komunitas Minikino yang ia bentuk di Bali, Tintin mempromosikan film pendek sebagai sebuah cara untuk “detox” dari konsumsi medium … Continue reading
Inilah sebuah film dokumenter yang berangkat dari permainan makna ketimbang dari usaha untuk merekam sebuah realitas. Siapa anak bernama Alam ini yang tampak dipilih secara acak dan tak bisa kita anggap sebagai anak yang mewakili orang-orang segenerasinya? Apa pula usaha si pembuat film yang hanya merekamnya dalam satu kesempatan di sebuah angkot dan membiarkan anak … Continue reading
Perhatikan penjelasan terhadap film animasi ini di laman Youtube ini. Kata “experimental” di sini saya rasa lebih dekat jika diganti dengan “coba-coba iseng berhadiah” ketimbang sebuah pernyataan untuk lawan kata “mapan” atau “arusutama”. Bukan saya meremehkan karya ini, tetapi kesederhanaan metode produksi animasi ini seperti menegaskan betul bahwa kebanyakan film pendek dibuat dengan semangat mencoba, … Continue reading