“Satu!”, berkali-kali si Q-Bong mengulang signposting ini dan tidak beralih ke angka “dua!”, pertanda ada yang keliru dengan cara kerja otaknya. Ia sedang mabuk, dan mewawancara orang mabuk bukanlah sebuah standar kerja jurnalisme yang baik. Dalam standar kerja wartawan, narasumber harus sadar, sehingga apa yang dikatakannya (jika punya implikasi hukum) bisa ia pertanggungjawabkan. Dengan cepat … Continue reading
Inilah sebuah film dokumenter yang berangkat dari permainan makna ketimbang dari usaha untuk merekam sebuah realitas. Siapa anak bernama Alam ini yang tampak dipilih secara acak dan tak bisa kita anggap sebagai anak yang mewakili orang-orang segenerasinya? Apa pula usaha si pembuat film yang hanya merekamnya dalam satu kesempatan di sebuah angkot dan membiarkan anak … Continue reading
Renita Renita Film ini memandang persoalan dari perspektif sederhana, mungkin naïf, tentang satu kelompok orang-orang yang terpinggirkan. Tak ada komplikasi pandangan yang memperlihatkan waria sebagai salah satu bentuk perjuangan identitas multi-jender, bagian dari warna warni pilihan seksualitas atau eksistensi. Setidaknya, hal itu tidak dijadikan titik tolak yang dibahas berkepanjangan. Film ini lebih banyak membahas apa … Continue reading
Saya menonton film Indonesia Calling di LIP / CCF Yogyakarta tanggal 11 Desember 2010 dalam rangka Festival Film Dokumenter 2010 Yogyakarta. Sebelum dan sesudah pemutaran, ada diskusi yang dihadiri oleh Elisabeth Inandiak, seorang Prancis yang pernah bekerjasama dengan sutradara film ini, Joris Ivens, dalam film terakhirnya, A Tale of The Wind. Ada beberapa penjelasan Inandiak … Continue reading